Awang Garang

Awang Garang | English Version

Cerita Rakyat dari Riau

Dulu, ada seorang nelayan muda di Riau. Namanya Awang Garang. Tugasnya bukan hanya memancing tapi dia juga sering membantu orang membangun kapal baru. Awang Garang sangat terampil, karena itulah orang selalu meminta pertolongannya.

Suatu hari Sultan Riau meminta tentaranya untuk menjadikannya sebuah kapal. Mereka bekerja siang dan malam. Namun kapal belum selesai. Kapal itu selalu rusak. Para prajurit takut. Mereka khawatir Sultan akan marah. Mereka kemudian meminta Awang Garang untuk membantu mereka. Dia tahu masalahnya.

Dia berkata, "Anda harus menggunakan tiga jenis hutan yang berbeda."

Dia benar! Kapal itu kuat. Semua tentara sangat ingin menyelesaikan kapal. Sayangnya, terjadi kecelakaan. Mata kanan Awang Garang terkena palu. Dia sangat marah. Dia mengutuk kapal tersebut.

"Saya mengutuk anda agar tidak bisa berlayar di laut," cungkil Awang Garang.

Lalu dia pulang ke rumah. Mata kanannya buta. Oleh karena itu ia menutupi matanya dengan balutan warna hitam.

Akhirnya kapal itu selesai. Anehnya kapal tidak bisa ke laut. Itu masih terdampar di pantai. Semua tentara mendorong kapal ke laut tapi tidak bergerak sama sekali. Salah satu dari mereka teringat akan kutukan Awang Garang. Kemudian mereka pergi ke rumah Awang Garang.

"Anda harus membantu kami, Anda mengutuk kapal itu, khan? Sekarang Anda harus membuat kapal berlayar di laut!" Kata tentara itu.

"Saya akan membantumu, tapi aku butuh 37 orang muda beserta perlengkapannya, selain itu juga harus menyiapkan tujuh wanita hamil yang mengenakan berbagai warna pakaian. Dan ingat, kalian semua harus menutup mata saat aku bekerja dengan 37 pria."

Mereka setuju. Kemudian 37 pria muda dan tujuh wanita hamil berdiri di samping kapal. Awang Garang memerintahkan ke 37 tujuh orang untuk menemukan beberapa pohon besar. Mereka menebang pohon dan mengupas kulitnya. Lalu mereka meletakkan pepohonan di bawah kapal. Awang Garang meminta ke-37 orang tersebut siap untuk mendorong kapal tersebut. Dia meminta ketujuh wanita hamil itu untuk berdoa.

Awang Garang lalu berteriak, "Semua orang, pukul tiga nanti kamu semua dorong kapal. Siap, satu .. dua .. tiga .. dorong!"

Perlahan kapal itu bergerak dan akhirnya menuju ke laut. Semua orang senang. Mereka semua mengucapkan terima kasih kepada Awang Garang.

Tidak lama kemudian ketujuh wanita hamil itu melahirkan bayi laki-laki mereka. Bayi-bayi itu tumbuh sebagai tentara yang hebat. Dan bersama Awang Garang mereka bertarung melawan bajak laut. Karena mereka sudah membantu kerajaan, maka Sultan memberi gelar panglima.

Awang Garang menjadi Panglima Hitam Elang dan ketujuh tentara tersebut memiliki gelar setelah nama Awang Garang dan warna kain yang dipakai ibu mereka. Mereka adalah Panglima Awang Merah, Panglima Awang Jingga, Panglima Awang Kuning, Panglima Awang Ungu, Panglima Awang Hijau, Panglima Awang Biru dan Panglima Awang Nila. ***

Pinisi

No comments: