Abdullah si Nelayan dan Abdullah si Merman

Abdullah the Fisherman and Abdullah the Merman | English Version

Dongeng dari Persia/Arab

Dahulu kala, ada seorang nelayan bernama Abdullah. Ia adalah orang miskin yang mempunyai keluarga besar. Dia hanya mampu menangkap hasil untuk mendukung keluarganya pada hari itu saja. Dia tidak pernah memiliki masalah dengan gaya hidup seperti ini, namun suatu hari dia tidak bisa menangkap seekor ikan pun.

Dia berjalan menyusuri kota dengan sedih, karena ia pulang dengan tangan hampa dan khawatir keluarganya menjadi kelaparan. Teman Abdullah, si tukang roti, melihat kesengsaraannya dan memberinya cukup uang untuk persediaan hari itu. Abdullah berjanji akan membalas kebaikan tukang roti sesegera mungkin.





Tapi keesokan harinya, Abdullah tetap tidak bisa menangkap ikan satupun juga. Tukang roti itu masih terus meminjaminya uang untuk memberi makan keluarganya tanpa meminta bayaran.

Abdullah menangis kepada istrinya tentang rasa bersalah yang dirasakannya karena tidak mampu menafkahinya. Istrinya meyakinkannya bahwa Allah akan menyediakannya.

Pada hari ke 40, ketika Abdullah menarik kembali jaringnya, ada seorang merman di dalamnya. Merman adalah makhluk bertubuh manusia setengah ikan yang berkelamin laki-laki/jantan.

Awalnya Abdullah ketakutan, tapi merman itu menjelaskan bahwa dia adalah pengikut iman dan tidak akan merugikan nelayan. Merman memperkenalkan dirinya sebagai Abdullah. Merman sangat senang mendengar bahwa nama nelayan itu juga Abdullah, karena itu adalah tanda kehendak Allah.

Abdullah dari Lautan menyarankan agar keduanya memulai sebuah kerjasama. Merman menginginkan buah yang tumbuh melimpah di darat. Sebagai gantinya, merman akan memberi Abdullah dari Daratan berupa perhiasan berharga yang mudah ditemukan di bawah laut. Sang nelayan dengan senang hati menyetujui rencana tersebut, dan dengan demikian kemitraan antara Abdullah dari Tanah dan Abdullah di Lautan dimulai.

Sekarang si nelayan sudah memiliki banyak perhiasan berharga, Abdullah dari Daratan dapat membalas budi tukang roti dan mendukung keluarganya dengan mudah. Setiap hari, Abdullah dari Daratan pergi ke laut dengan sekeranjang buah dan kembali ke kota dengan membawa sekeranjang perhiasan. Dengan banyak bawaan, sang nelayan menuju ke toko perhiasan lokal untuk menjual barangnya.

Namun, kejadian yang tidak terduga terjadi pada Abdullah. Perhiasan Ratu baru saja dicuri. Seorang sheik datang ke kota untuk menemukan pelakunya. Dia ada di toko perhiasan, menunggu si pencuri mengubah wujud barang curiannya. Ketika Abdullah, seorang nelayan miskin, datang membawa sebuah keranjang berisi perhiasan untuk dijual, sheik itu langsung menganggap Abdullah adalah si pencuri.

Abdullah dari Daratan ditangkap dan dibawa ke hadapan Raja. Ratu memeriksa perhiasan yang disita itu. Ternyata Ratu menemukan bahwa kualitas perhiasan itu jauh lebih unggul daripada kualitas miliknya sendiri. Abdullah dari Tanah segera dibebaskan dan mendapat permintaan maaf resmi dari Raja. Raja tidak hanya membeli semua perhisan Abdullah untuk mengatasi kesalahan tersebut, namun Raja juga mengizinkan Abdullah untuk menikahi anak perempuannya, sang Putri. Keluarga Abdullah pindah dan hidup dalam kemegahan, dan Abdullah menjadi sangat dihormati sebagai menantu Raja.

Abdullah sang nelayan terus menjalin kerjasama dengan Abdullah sang merman. Suatu hari, keduanya telah bertahan dalam pertemuan yang biasa mereka lakukan dengan obrolan panjang yang menyenangkan. Mereka membicarakan banyak hal, tapi akhirnya mereka sampai pada pokok keyakinan. Merman bertanya apakah nelayan tersebut telah melakukan ziarah ke makam nabi. Abdullah dari Tanah mengakui bahwa dia tidak pernah pergi karena dia sebelumnya terlalu miskin untuk melakukan perjalanan.

Menyadari dia memiliki kesempatan, Abdullah dari Daratan bertanya apakah dia bisa melepaskan sementara perdagangan mereka saat dia melakukan ziarah. Abdullah dari Laut dengan senang hati membiarkan dia mengambil cuti, tapi hanya jika nelayan itu bisa menyamapaikan titipan merman saat berziarah. Abdullah dari Laut tidak dapat melakukan perjalanan di darat dan meraasa sedih akan kenyataan bahwa ia tidak bisa melakukan ziarah, tapi ia akan merasakan kedamaian jika Abdullah dari daratan bisa mewujudkan keinginannya.

Abdullah dari Negeri menerima permintaan bersahaja temannya. Sebagai ucapan terima kasih, Merman mengundangnya ke rumahnya untuk berpesta. Abdullah dari Daratan menjelaskan bahwa ia sebenarnya ingin menerima penawarannya, tapi tidak mungkin dilakukannya karena ia tidak bisa bernapas di bawah air. Lalu si merman menghilang sejenak di bawah ombak, dan kembali dengan membawa wadah berisi salep seperti lemak sapi yang berwarna emas dan baunya enak. Salep itu adalah lemak dari hati ikan yang ganas, lebih besar dari binatang manapun di darat. Ikan itu disebut Dandan.

Setelah salep dioles pada nelayan, dia bisa bernapas dan berenang jauh di bawah air tanpa masalah. Abdullah dari Daratan melihat banyak pemandangan menakjubkan saat berada di bawah laut.

Menjelang sore, dia dibawa ke rumah Abdullah dari Lautan dan mengadakan pesta besar. Walaupun nelayan itu merasa dihormati, ia merasa canggung karena pesta itu dihidangkan dengan ikan mentah, karena tidak ada api di bawah air.

Seiring merman menjelaskan budaya mereka, hal lain mulai menyulitkan nelayan. Ketika Abdullah dari Lautan bertanya hal apa yang mengganggu tamunya, nelayan tersebut menjelaskan bahwa semua manusia duyung itu telanjang, yang menurutnyanya adalah sesuatu yang tidak pantas.

Tidak hanya itu, sementara merman membawa tamunya berkeliling, ada pemakaman yang sedang berlangsung. Semua "pelayat" bersorak dan merayakan dengan gembira, pemandangan seperti itu mengganggunya.

Merman itu bingung dan bertanya apa yang manusia lakukan saat seseorang meninggal. Abdullah dari Tanah menjelaskan bahwa mereka menangis dan sedih atas kehilangan orang yang mereka cintai.

Saat itu, Abdullah dari Laut menjadi sangat kesal dan memngembalikan tamunya ke daratan.

"Berikan aku titipan itu!" Jadi nelayan memberikan kepadanya.

Kemudian merman berkata kepadanya, "Saya telah memutuskan hubungan kami dan keluarga kami, oleh karena itu sejak hari ini, Anda tidak akan melihat saya lagi dan saya juga tidak akan melihat Anda lagi."

Sang nelayan tidak bisa mengerti kesalahan yang dia lakukan. Merman dengan marah menjelaskan bahwa dia tidak dapat mempercayai seseorang yang tidak bersukacita ketika jiwa yang telah pergi kembali kepada Allah.

"Apakah menyedihkan bagimu jika Allah harus mengambil kembali milik-Nya, hingga Anda menangis karenanya? Bagaimana saya bisa mempercayai Anda untuk menyampaikan titpan kepada Nabi? Ketika seorang anak lahir, kamu bersukacita karenanya, walaupun kamu tahu Yang Mahakuasa menempatkan jiwa di dalamnya sebagai titipan, namun ketika Dia mengambilnya lagi, hal itu sangat menyedihkan bagimu dan kamu menangis dan berduka? Karena sulit bagimu untuk merelakan titipan Allah, bagaimana bagaimana bisa dengan mudah menyampaikan titipan saya kepada Rasul? Oleh karena itu kami tidak membutuhkan persahabatanmu lagi."

Setelah itu merman meninggalkannya dan menghilang di laut.

Itulah akhir dari hubungan mereka, dan Abdullah dari Daratan kembali ke rumahnya di istana dengan putus asa. Meski keluarganya terus hidup dengan baik selama sisa hidupnya, Abdullah dari Daratan tetap mengunjungi laut dan memanggil temannya yang hilang, walaupun merman telah meninggalkannya untuk selamanya. **

Tamat

Pantai


Apakah kamu Tahu?

Dandan atau Dendan adalah makhluk laut mitologi yang muncul dalam buku 1001 malam volume 9. Ia muncul dalam kisah Abdullah si Nelayan dan Abdullah si Merman, di mana nelayan ikan duyung jantan mengatakan bahwa Dandan merupakan ikan terbesar dan paling ganas dari musuh-musuh duyung. Lebih besar dari pada binatang buas manapun. Jika dia bisa bertemu seekor unta atau seekor gajah, dia akan menelannya bulat-bulat. Ia makan makhluk di lautan, Seperti ikan-ikan di laut lainnya ia mememakan yang lebih lemah.

Ada banyak Dandan di lautan. Dandan takut dengan manusia atau Anak Adam. Karena jika dia memakan seorang manusia, ia akan mati. Lemak manusia adalah racun yang mematikan bagi makhluk seperti ini.

Para duyung mengumpulkan lemak hati ikan Dandan yang telah mati. Yaitu ketika ada manusia jatuh ke laut dan tewas tenggelam kemudian wujudnya telah rusak dan berubah, sehingga Dandan memakannya karena mengira daging itu berasal dari makhluk laut, akibatnya Dntan itu mati karena menyantapnya. Lalu para duyung mengambil hatinya untuk mengoleskannya pada tubuh mereka agar bisa menjelajah di lautan denagn aman.

Dan juga dimanapun ada anak Adam, meskipun di tempat itu ada seratus atau dua ratus atau seribu atau lebih dari Dandan sekalipun, semua akan mati dengan mendengar suara manusia, bahkan mereka juga tidak bisa bergerak dari posisi mereka. Jadi jika ada anak Adam yang terjatuh kelaut, para duyung akan mengolesinya dengan lemak hati ikan Dandan dan meminta manusia itu untuk berteriak jika bertemu dengan Dandan. Hewan itu akan mati seketika dengan satu teriakan saja. **

Tahun pembuatan Dongeng: 1883

No comments: