Search This Blog

Warak Ngendok

 Sehari di Festival Dugderan

English Version: Warak Ngendok

Pagi itu, langit Semarang tampak cerah dengan awan-awan putih yang berlayar perlahan di atas kota. Jalanan sudah mulai ramai lebih awal dari biasanya. Dari berbagai arah, orang-orang berdatangan menuju pusat kota. Ada keluarga yang membawa anak-anak, para pelajar yang berjalan berkelompok, pedagang yang sibuk menata dagangan, dan wisatawan yang penasaran ingin menyaksikan perayaan yang hanya datang setahun sekali.

Hari itu adalah hari Dugderan.

Aku tiba ketika matahari masih belum terlalu tinggi. Di sepanjang jalan, bendera warna-warni dan hiasan tradisional berkibar tertiup angin laut yang lembut.

"Masih pagi, tapi sudah ramai ya," kata seorang bapak yang berdiri di dekatku.

"Iya, kalau datang siang biasanya susah cari tempat," jawab temannya sambil tertawa.

Di sudut jalan, para pedagang mulai membuka lapak. Aroma makanan hangat segera memenuhi udara.

"Getuk! Lupis! Kue putu masih hangat!" seru seorang penjual.

Tak jauh dari sana, seorang anak menarik lengan ibunya.

"Bu, lihat! Waraknya!"

Yang dimaksud ternyata bukan Warak Ngendhog besar yang akan ikut kirab nanti, melainkan mainan Warak Ngendhog berwarna cerah yang digantung berjajar di kios.

Tubuhnya berbulu lembut dengan warna merah, hijau, kuning, dan biru. Kepalanya menyerupai naga, sementara tubuhnya mengingatkan pada kambing dan unta sekaligus.

"Aku mau yang itu!" kata si anak sambil menunjuk Warak terbesar.

Ibunya tersenyum.

"Nanti kalau sudah lihat kirab dulu."

Anak itu mengangguk, meski matanya tetap terpaku pada mainan tersebut.


Menjelang siang, jumlah pengunjung semakin bertambah.

Di berbagai sudut terdengar suara percakapan, tawa, dan musik tradisional yang dimainkan bergantian.

Beberapa kelompok seni mulai mempersiapkan pertunjukan mereka.

Para penari merapikan kostum.

Pemain musik memeriksa alat-alat mereka.

Anak-anak berlarian membawa balon berbentuk hewan.

Seorang kakek duduk di bawah pohon sambil memperhatikan keramaian.

"Saya sudah lihat Dugderan sejak kecil," katanya kepada cucunya.

"Sejak zaman kakek kecil?"

"Iya."

"Dulu Waraknya sudah ada?"

Kakek itu mengangguk.

"Ada. Bentuknya beda-beda, tapi semangatnya sama."

"Apa semangatnya?"

Kakek itu tersenyum.

"Persaudaraan."


Menjelang sore, suasana mulai berubah.

Kerumunan semakin rapat.

Banyak orang mencari posisi terbaik di sepanjang rute kirab.

Pedagang mulai sibuk melayani pembeli.

Anak-anak duduk di pundak ayah mereka agar bisa melihat lebih jauh.

Di kejauhan terdengar bunyi bedug.

Dug!

Suara itu menggema.

Beberapa orang langsung menoleh.

Dug! Dug!

Lalu disusul bunyi meriam tradisional.

Der!

Kerumunan mulai bersorak.

"Itu dia!"

"Sudah mulai!"

"Waraknya datang!"

Seorang anak kecil melompat kegirangan.




Kegembiraan Dugderan memenuhi jalanan Semarang saat Warak Ngendhog hadir membawa semangat persatuan dan kebersamaan.





Kirab pun bergerak perlahan.

Barisan pertama terdiri dari para pembawa panji dan kelompok seni budaya.

Mereka berjalan dengan pakaian tradisional yang berwarna-warni.

Di belakangnya muncul rombongan pemain musik yang mengiringi perjalanan dengan irama meriah.

Lalu, dari balik kerumunan peserta kirab, tampak sosok yang ditunggu-tunggu semua orang.

Warak Ngendhog.

Kepalanya menjulang tinggi.

Tubuhnya dihiasi warna-warna cerah yang berkilauan saat terkena cahaya matahari sore.

Bulu-bulu hias bergerak mengikuti langkah para pembawanya.

"Besarnya!" seru seorang anak.

"Aku tidak menyangka sebesar itu!"

Banyak kamera langsung terangkat.

Beberapa orang melambaikan tangan.

Anak-anak berteriak penuh semangat.

Warak itu bergerak perlahan seolah menyapa semua orang di sepanjang jalan.

"Kenapa namanya Warak Ngendhog?" tanya seorang anak kepada ayahnya.

Ayahnya berpikir sejenak.

"Karena warak itu bertelur."

"Warak bisa bertelur?"

"Tidak sungguhan."

"Lalu?"

"Itu simbol."

Anak itu tampak semakin bingung.

Orang-orang di sekitarnya tertawa kecil.


Matahari mulai turun perlahan.

Cahaya keemasan menyelimuti bangunan-bangunan tua dan jalanan kota.

Kirab masih berlangsung.

Di beberapa titik, kelompok seni menampilkan tarian dan atraksi singkat.

Penonton bertepuk tangan.

Musik mengalun.

Suara tawa bercampur dengan langkah kaki dan denting alat musik.

Di tengah semua itu, Warak Ngendhog tetap menjadi pusat perhatian.

Seorang wisatawan berdiri di dekatku sambil memotret.

"Ini pertama kalinya saya ke Semarang," katanya.

"Bagaimana menurut Anda?"

Ia tersenyum lebar.

"Saya suka. Rasanya seperti seluruh kota ikut merayakan sesuatu bersama."


Menjelang malam, lampu-lampu mulai menyala.

Warung makan semakin ramai.

Anak-anak memamerkan mainan yang baru mereka beli.

Beberapa keluarga mulai bersiap pulang.

Namun banyak juga yang masih bertahan menikmati suasana.

Di langit, warna jingga perlahan berubah menjadi biru tua.

Keramaian mulai mereda sedikit demi sedikit.

Aku melihat seorang anak yang tadi ingin membeli mainan Warak Ngendhog.

Kini ia berjalan sambil memeluk mainan itu erat-erat.

"Waraknya senang tidak ya?" tanyanya.

"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" tanya ibunya.

"Soalnya banyak yang datang melihat dia."

Ibunya tertawa lembut.

"Mungkin."

Anak itu memandang mainannya sesaat.

"Lalu tahun depan dia datang lagi?"

"Tentu."

"Janji?"

"Janji."


Malam semakin larut.

Lapak-lapak mulai ditutup.

Suara musik perlahan menghilang.

Namun rasa hangat dari perayaan itu masih tertinggal.

Dugderan bukan sekadar kirab atau pesta rakyat.

Ia adalah saat ketika jalan-jalan kota dipenuhi senyum, ketika berbagai latar belakang bertemu dalam satu perayaan, dan ketika sebuah makhluk warna-warni bernama Warak Ngendhog kembali mengingatkan semua orang bahwa kebersamaan dapat dirayakan dengan cara yang sederhana.

Dan ketika lampu-lampu kota mulai memantul di jalan yang basah oleh embun malam, seolah masih terdengar gema yang tersisa dari sore tadi:

Dug... der...

Pertanda bahwa bulan yang dinanti akhirnya hampir tiba. 🌙🏮🐉🥚✨




Explore the Folklore World

Core Pages — Indonesian Folklore


Technical Info


Folklore Characters & Stories


Folklore Types & Traditions

Culture, Craft & Daily Life


Nature & Conservation


Creative & Modern Explorations


No comments:

Post a Comment

Horse (Equine) Art, Pencil on Paper Collection