Kuda Pacu Indonesia (KPI)

Setelah menunggu hampir 38 tahun, akhirnya Indonesia memiliki kuda pacuan asli produk dalam negeri. Kerja keras pencinta olah raga berkuda telah membuahkan hasil setelah  Keputusan Menteri Pertanian No.4468 tahun 2013 tentang Pelepasan Rumpun Kuda Pacu Indonesia keluar.


Foto: Kuda Pacu Indonesia

Ketua Komisi Peternakan dan Kesehatan Hewan, Persatuan Olah Raga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi), Soehadji mengakui, upaya melahirkan KPI memakan waktu yang cukup lama. Karena itu dengan KPI, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor kuda pacuan.

Mantan Dirjen Peternakan itu menceritakan, pemikiran awal membentuk KPI saat Musyawarah Nasional III dan Lokakarya I Pimpinan Pusat Pordasi pada 26 September 1975. Saat itu disepakati pembentukan KPI melalui persilangan lokal (sandel) dan pejantan impor. “Munas Pordasi menyepakati untuk menyilangkan kuda impor dari Australia dengan kuda Sumba,” ujarnya.

Setelah itu, pada 27 Juli 1976, pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama Dirjen Peternakan yang saat itu dijabat JH. Hutasoit dan Ketua Umum PP Pordasi, Mayjen Seohardjono tentang Registrasi Kuda. Sebagai tindak lanjut dari SKB tersebut, DIrjen Peternakan mengeluarkan SK No.105/95 untuk menetapkan standar nasional KPI.

Untuk menghasilkan KPI, Pordasi bekerjasama dengan Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (Peripi). Dari hasil persilangan yang cukup panjang, akhirnya lahir kuda pacuan unggul. Ada dua KPI yang dihasilkan yakni komposisi gen kuda F3 (87,5% kuda impor Thoroughbred dan 12,5% Kuda Sadel) dan F4 (93,75% kuda impor Thoroughbred dan 6,25% Kuda Sadel).

Dengan hasil tersebut menurut Soehadji, maka persilangan Kuda Sadel dan Kuda Thorounghbred dihentikan. Sebab dengan kuda F3 dan F4 sudah memungkinkan sebagai populasi penghasil KPI yang diharapkan masih memiliki keunggulan dalam adaptasi lingkungan tropis.

“Sayangnya permohonan ijin pelepasan rumpun baru KPI tersebut sempat tersendat pada tahun 2010. Baru tahun ini disetujui,” kata Soehadji.

No comments: