Ia menuju ke sebuah gunung, tempat para gembala sering membawa ternak mereka untuk merumput. Di sana, ia berbaring diam, membuka rahangnya yang besar dengan lebar, berharap mangsanya yang telah ditakdirkan akan masuk ke dalam mulutnya tanpa menyadarinya.
Para Gembala dan Si Anak Terbuang
Di sebuah desa yang tak jauh dari gunung itu, sepuluh orang gembala bersiap menggembalakan ternak mereka di padang rumput yang subur. Di antara mereka, ada seorang anak laki-laki yang kurus, lemah, dan selalu kotor. Teman-temannya tak pernah memperlakukannya dengan baik. Mereka selalu mengejeknya, menyebutnya lemah dan tak berguna. Namun, anak itu tidak pernah melawan. Ia hanya diam dan pergi setiap kali mereka menghinanya.
Hari itu, matahari bersinar terik di langit, membuat para gembala merasa letih dan kepanasan. Mereka pun mencari tempat berteduh, berharap menemukan tempat yang sejuk untuk beristirahat. Anak laki-laki yang kerap diejek itu berjalan lebih dulu dari yang lain dan menemukan sebuah pohon besar dengan cabang-cabang yang rimbun. Naungannya begitu teduh, melindunginya dari terik matahari yang menyengat. Ia pun berbaring dengan tenang, menikmati kenyamanan yang jarang ia rasakan.
Ketika para gembala lainnya melihatnya, rasa iri mulai membakar hati mereka.
"Kenapa anak kotor itu yang mendapat tempat terbaik?" salah satu dari mereka mencibir.
"Ayo, kita rebut saja tempatnya!" usul yang lain.
Semua setuju, dan tanpa ragu, mereka mengambil segenggam lumpur. Sambil tertawa kejam, mereka melemparkan lumpur itu ke arah anak kurus, menghujaninya dengan kotoran dan ejekan.
Hati anak itu terasa perih, tetapi ia tetap tidak melawan. Dengan tenang, ia berdiri, membersihkan dirinya sebisanya, dan melangkah pergi, meninggalkan mereka yang kini menikmati tempat teduh yang telah mereka rebut.
"Haha! Pergilah, dasar anak kurus tak berguna!" mereka mengejek sambil tertawa puas melihatnya menghilang di kejauhan.
Perangkap Sang Naga
Tak lama kemudian, langit tiba-tiba menjadi gelap. Angin kencang menderu di antara pepohonan, dan suara gemuruh petir mengguncang langit. Lalu, hujan deras turun tanpa ampun, membasahi seluruh daratan.
Para gembala panik. Mereka harus segera mencari tempat berteduh.
Di tengah guyuran hujan, mereka melihat sebuah gua di sisi gunung. Gua itu besar, gelap, dan tampak seperti tempat perlindungan yang sempurna. Tanpa berpikir panjang, mereka bergegas masuk, sama sekali tidak menyadari bebatuan tajam yang menghiasi dindingnya.
Namun, gua itu bukanlah tempat biasa. Itu adalah mulut Baruklinting yang sedang menunggu mangsanya.
Begitu mereka mulai merasa sedikit lebih hangat di dalam gua, si anak gembala yang terbuang tiba. Ia juga mencari perlindungan dari hujan yang deras. Namun, sebelum ia sempat melangkah masuk, salah satu gembala yang lebih besar mendorongnya dengan kasar.
"Pergi sana! Tempat ini hanya untuk anak-anak yang kuat, bukan untuk lemah sepertimu!"
"Tapi hujan sangat deras! Tolong, izinkan aku berteduh sebentar saja!" pintanya dengan suara lirih.
"Aku tidak peduli! Enyahlah!" ejek yang lain, sebelum mendorongnya kembali ke tengah badai.
Naga Terbangun
Begitu anak gembala kurus itu tersandung keluar, gua yang tadi terbuka tiba-tiba bergetar hebat—lalu tertutup rapat!
Suara raungan dahsyat menggema di seluruh gunung ketika mulut Baruklinting mengatup dengan erat, menjebak sembilan gembala di dalamnya. Teriakan mereka langsung lenyap, ditelan suara petir dan hujan deras. Tugas sang naga telah selesai—persembahan untuk para dewa telah terpenuhi.
Anak gembala yang terbuang itu gemetar ketakutan. Tubuhnya basah kuyup oleh hujan, namun ia tidak berani berhenti. Dengan napas tersengal, ia berlari secepat yang ia bisa menuruni gunung, hatinya berdebar kencang. Sesampainya di desa, ia segera berteriak, memberi tahu penduduk tentang apa yang telah terjadi.
Terkejut dan marah, para penduduk desa segera mengambil senjata mereka. Mereka berbondong-bondong menuju gunung, berniat memburu sang naga dan membalaskan nasib para gembala yang hilang.
Namun, ketika mereka tiba di sana, Baruklinting telah menghilang. Tidak ada jejaknya yang tersisa—hanya tanah kosong dan keheningan mencekam yang menyelimuti gunung itu.
Asal-Usul Desa Kesongo
Sejak hari itu, desa tersebut dikenal sebagai Kesongo, yang berasal dari kata Songo, yang berarti "sembilan"—sebuah pengingat abadi akan sembilan gembala yang ditelan oleh naga besar.
Dan demikianlah legenda Baruklinting terus diceritakan turun-temurun, menjadi kisah yang berbisik di antara angin—peringatan akan kekejaman, takdir, dan kekuatan tak terlihat yang menjaga keseimbangan dunia.
No comments:
Post a Comment