Tadulako Bulili

English version | Tadulako Bulili

Cerita rakyat dari Sulawesi Tengah

BULILI adalah sebuah desa di Sulawesi Tengah. Rakyat hidup bahagia dan damai. Desa ini memiliki tiga pengawal yang disebut Tadulako. Mereka bernama Tadulako Bantaili, Makeku, dan Molove.

Tadulako sangat kuat dan memiliki keahlian seni bela diri. Mereka juga terampil bersenjata. Selain itu mereka berani dan setia. Rakyat sangat mencintainya. Berkat Tadulako, desa Bulili selalu aman.

Ada seorang gadis yang sangat menawan di Bulili. Beberapa orang mengatakan bahwa dia adalah gadis yang paling cantik di dunia. Kemana pun ia pergi, orang-orang selalu menatapnya. Mereka kagum dengan kecantikannya. Dan mereka akan sangat senang ketika gadis itu tersenyum pada mereka.





Raja Sigi mendengar tentang gadis cantik yang tinggal di Bulili. Sang Raja masih lajang dan ingin menikah. Dia ingin memiliki seorang Ratu dan kemudian memiliki keturunan. Dia berharap anaknya satu hari bisa menggantikannya sebagai raja. Tapi pertama-tama ia harus menemukan seorang wanita yang sempurna untuk dinikahinya.

Raja Sigi penasaran dengan gadis cantik di Bulili. Ia pergi ke Bulili dan ingin melihatnya.

"Yang Mulia, selamat datang di desa kami," kata kepala desa Bulili.

"Terima kasih. Saya di sini karena mendengar ada gadis cantik. Bolehkah aku melihatnya?"

Dan setelah raja melihat gadis itu, ia sangat senang. Gadis itu sangat cantik. Dia jatuh cinta padanya. Dan ia berpikir bahwa ia akan menjadi seorang ratu yang sempurna untuknya.

Raja tidak ingin membuang waktu. Dia meminta gadis itu menikahinya. Gadis itu setuju. Dan pernikahan itu segera diselenggarakankan.

Setelah mereka menikah, raja dan gadis itu tinggal di Bulili. Pada awalnya mereka hidup bahagia. Namun perlahan-lahan, mereka mulai memiliki argumen. Mereka selalu bertengkar tentang hal-hal kecil. Hali ini membuat raja tidak bahagia dan ingin kembali ke kerajaannya. Ia mengatakan kepada istrinya bahwa ia harus mengurus kerajaannya. Lalu ia pergi. Dia tidak tahu bahwa ketika ia pergi, istrinya hamil.

Sembilan bulan berlalu setelah raja meninggalkan desa, bayinya pun lahir. Kepala desa meminta Tadulako Bantaili dan Tadulako Makeku untuk pergi ke istana. Sementara itu, Tadulako Molove tinggal di desa itu.

Kepala desa meminta Tadulako Bantaili dan Tadulako Makeku pergi ke istana melihat sang raja. Pertama, mereka harus mengatakan kepadanya bahwa bayinya lahir dan kedua, mereka meminta raja untuk memberikan beras untuk sang bayi.

"Benarkah? Saya punya anak?" kata raja saat Tadulako Bantaili bercerita tentang bayinya.

Raja tidak suka berita itu. Rupanya dia tidak mencintai istrinya lagi dan ingin meninggalkan dia selamanya.

"Tidak! Aku tidak akan memberikan beras sedikitpun!" jawab raja ketika Tadulako Makeku memintan beras untuk sang bayi.

"Maafkan kami, Yang Mulia. Kami tidak punya pilihan lain. Kami akan mengambil beras dengan atau tanpa izin Anda," kata Tadulako Bantaili.

Tadulako Bantaili dan Tadulako Makeku meninggalkan istana dan pergi ke lumbung. dengan kekuatan mereka, mereka mengangkat lumbung padi dengan mudah dan membawanya ke desa Bulili.

Raja marah! Ia meminta prajuritnya untuk mengejar mereka dan membawa lumbung kembali.

Tadulako berlari sangat cepat dan ketika mereka tiba di sungai, mereka melompat dan mendarat di seberang sungai dengan mudah.

Para prajurit tidak bisa melakukan apa pun. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk melompat ke seberang sungai. Akhirnya mereka kembali ke Sigi dengan kecewa.

Pondok Nelayan, Sulawesi Tengah

Puncak Gunung Nokilalali, Sulawesi Tengah

No comments:

Post a Comment

Horse (Equine) Art, Pencil on Paper Collection