Si Tanggang: Kisah Kesuksesan, Kesombongan, dan Penyesalan
Folklor dari Kepulauan Riau
Dulu, di sebuah pulau kecil di Kepulauan Riau yang dikelilingi laut biru dan hutan hijau, hiduplah seorang pemuda bernama Tanggang. Ia adalah anak tunggal dari seorang ibu yang sangat menyayanginya. Sejak kecil, Tanggang dibesarkan dengan kasih sayang dan dididik dalam kehidupan sederhana sebagai anak nelayan. Setiap hari, ia membantu ibunya menangkap ikan dan mengumpulkan hasil laut untuk bertahan hidup. Meski hidup mereka tak berlimpah harta, kebersamaan dan cinta kasih sang ibu selalu membuat rumah mereka terasa hangat.
Namun, di dalam hati Tanggang, terpendam keinginan besar. Ia tidak ingin selamanya hidup dalam kesederhanaan sebagai nelayan. Ia bermimpi menjadi orang kaya, memiliki pakaian indah, kapal besar, dan dihormati banyak orang. Setiap kali melihat kapal dagang yang melintas di laut lepas, ia membayangkan kehidupan mewah yang jauh dari kerasnya hidup sebagai nelayan.
Suatu hari, sebuah kapal dagang yang megah bersandar di pelabuhan kecil pulau mereka. Para pedagang yang turun dari kapal tampak gagah dengan pakaian mahal, perhiasan berkilauan, dan barang dagangan dari negeri-negeri jauh. Mata Tanggang berbinar melihat kemewahan itu. Ia begitu terpesona oleh segala yang dimiliki para pedagang hingga hatinya dipenuhi hasrat untuk meninggalkan kampung halamannya.
Tanpa ragu, Tanggang mendekati kapten kapal dan memohon untuk diizinkan bergabung dalam perjalanan dagang mereka. Ibunya yang mendengar keputusan itu merasa sangat sedih. Ia memohon agar Tanggang tetap tinggal bersamanya, mengingatkan bahwa dunia luar penuh bahaya dan keserakahan. Namun, ambisi dalam diri Tanggang sudah terlalu kuat. Ia menganggap impian dan masa depannya lebih penting daripada tinggal di pulau kecil bersama ibunya.
Dengan berat hati, sang ibu merelakan kepergian putranya. Ia hanya bisa berdoa agar Tanggang tetap ingat asal-usulnya dan tidak melupakan ibunya, yang selalu mencintainya tanpa syarat. Namun, takdir telah menulis kisah yang berbeda bagi Tanggang…
Kesombongan Tanggang dan Amarah Alam
Setelah bertahun-tahun merantau, Tanggang akhirnya mencapai puncak kejayaannya. Ia kini menjadi seorang pedagang kaya raya yang memiliki banyak kapal, harta melimpah, dan hidup dalam kemewahan. Ia menikahi seorang wanita bangsawan dari negeri jauh dan dihormati di mana pun ia berlabuh. Namun, di balik semua kesuksesan itu, ada satu hal yang ia lupakan—ibunya.
Ibunya yang dulu membesarkannya dengan penuh kasih sayang tetap tinggal di kampung halamannya, menanti kepulangan putra tercinta. Hari demi hari berlalu, namun Tanggang tidak pernah mengirim kabar, apalagi kembali untuk menemuinya. Doa dan harapan sang ibu selalu terucap, berharap anaknya tidak melupakan asal-usulnya. Namun, Tanggang telah buta oleh kesombongan dan kekayaannya. Ia menganggap dirinya bukan lagi anak seorang nelayan miskin.
Suatu hari, saat sedang berlayar dalam salah satu perjalanan dagangnya, kapal Tanggang terjebak dalam badai dahsyat. Langit yang semula cerah mendadak menjadi gelap, angin bertiup kencang, dan ombak setinggi gunung menghantam kapal dengan dahsyat. Para awak kapal berteriak ketakutan, sementara Tanggang sendiri panik melihat kapalnya yang megah mulai hancur diterjang gelombang.
Di tengah keputusasaan, Tanggang bersimpuh dan berteriak memohon pertolongan kepada Tuhan. Ia menangis, berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa jika ia selamat dari badai ini, ia akan membangun sebuah masjid besar sebagai tanda syukur dan penebusan dosa. Ia berjanji akan lebih rendah hati dan tak lagi lupa pada asal-usulnya.
Keajaiban pun terjadi. Badai perlahan mereda, angin mulai melemah, dan laut kembali tenang. Tanggang dan beberapa awaknya yang tersisa berhasil selamat. Mereka ditemukan oleh kapal dagang lain yang lewat dan diberi pertolongan. Namun, begitu keadaannya membaik dan kehidupannya kembali nyaman, Tanggang melupakan janjinya.
Alih-alih bersyukur, ia kembali tenggelam dalam kesombongan dan kemewahan. Ia tidak membangun masjid seperti yang dijanjikannya, dan tak pernah merenungkan kejadian itu sebagai pengingat akan dosa-dosanya. Dalam hatinya, ia menganggap badai itu hanyalah cobaan biasa, bukan teguran atas kesombongannya. Takdir, bagaimanapun, selalu memiliki cara sendiri untuk mengingatkan mereka yang lupa akan janjinya…
Kutukan yang Tak Terelakkan
Dengan penuh kebanggaan, Tanggang kembali ke pulau kelahirannya. Baginya, ini bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan kesempatan untuk memamerkan keberhasilannya. Kapalnya yang megah berlabuh di pantai, membawa peti-peti harta yang berkilauan. Ia mengenakan pakaian mahal dari sutra dan perhiasan emas, berjalan di antara penduduk desa dengan kepala tegak, berharap disambut sebagai orang besar yang telah kembali membawa kemakmuran.
Namun, yang ia temukan justru sebaliknya. Penduduk desa memandangnya dengan tatapan dingin dan tidak bersahabat. Mereka berbisik satu sama lain, mengenali siapa pria kaya itu. Mereka tahu tentang Tanggang—bukan sebagai pahlawan atau orang sukses, tetapi sebagai anak durhaka yang melupakan ibunya sendiri. Satu per satu, mereka menolak keberadaannya.
“Kami tidak membutuhkan orang seperti kau di sini!” seru seorang lelaki tua.
“Pergilah! Kau telah melupakan ibumu, dan sekarang kau ingin kembali seolah-olah tak terjadi apa-apa?” ujar seorang wanita dengan nada marah.
Tanggang terkejut dan tidak memahami mengapa mereka begitu membencinya. Bukankah ia telah berhasil? Bukankah kesuksesannya seharusnya membuat orang-orang bangga? Ia mencari ibunya, berharap bisa menebus kesalahannya dan membuktikan bahwa ia masih peduli. Namun, saat bertanya tentang ibunya, wajah para penduduk semakin muram.
“Ibumu telah tiada,” jawab seseorang dengan nada sedih. “Ia menunggu kepulanganmu bertahun-tahun, tetapi kau tak pernah datang. Hatinya hancur karena penantian yang sia-sia. Ia meninggal dengan air mata kerinduan yang tak terbalaskan.”
Tanggang merasa dunia di sekelilingnya runtuh. Dengan langkah gemetar, ia berjalan menuju makam ibunya. Di sana, di bawah pohon tua yang rindang, terukir sebuah batu sederhana dengan nama ibunya. Ia jatuh berlutut, menyentuh tanah dengan tangannya yang kini gemetar. Air matanya mengalir deras, bercampur dengan tanah yang lembab.
“Ibu… maafkan aku…” suaranya bergetar, penuh dengan kesedihan dan penyesalan.
Ia akhirnya menyadari betapa besarnya dosa yang telah ia lakukan. Ia telah mengejar kekayaan dunia, tetapi melupakan satu hal yang paling berharga—cinta dan doa seorang ibu.
Namun, penyesalan itu datang terlambat. Tanggang menangis tanpa henti, menyesali segalanya, tetapi tak ada yang bisa dilakukan lagi. Hatinya yang dipenuhi kesedihan mulai melemah, tubuhnya yang dulu gagah tak lagi kuat. Tak lama setelah itu, Tanggang meninggal dunia dalam penyesalan yang mendalam, tanpa sempat memenuhi janjinya kepada Tuhan dan ibunya.
Konon, di tempat Tanggang meninggal, terbentuklah sebuah batu besar yang menyerupai sosok manusia yang tengah bersimpuh. Masyarakat percaya bahwa itu adalah wujud Tanggang yang dikutuk karena kedurhakaannya. Kisahnya pun terus diceritakan turun-temurun sebagai pengingat bahwa kesuksesan dan harta tidak akan berarti apa-apa jika seseorang melupakan asal-usulnya dan orang yang telah berkorban demi dirinya.
Pesan Moral: Menghargai, Menepati, dan Tidak Lupa Diri
Dari kisah Si Tanggang, terdapat beberapa pesan moral yang dapat dipetik:
-
Menghormati dan Menghargai Orang Tua
Orang tua adalah sosok yang telah berkorban untuk membesarkan dan mendidik kita. Mengabaikan mereka demi ambisi pribadi bisa membawa penyesalan yang mendalam. Kasih sayang dan doa orang tua adalah berkah yang tidak ternilai. -
Menepati Janji
Janji adalah bentuk komitmen dan tanggung jawab. Tidak menepati janji, terutama yang dibuat dalam keadaan genting, dapat berujung pada konsekuensi yang tidak diinginkan. -
Kesuksesan Tidak Boleh Membuat Lupa Diri
Kekayaan dan kedudukan bukanlah segalanya jika seseorang melupakan asal-usul dan nilai-nilai yang telah membentuknya. Kesombongan dapat membuat seseorang terasing dari lingkungannya sendiri. -
Pentingnya Kesadaran dan Penyesalan yang Tepat Waktu
Menyadari kesalahan adalah langkah awal menuju perbaikan, tetapi jika penyesalan datang terlambat, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan bisa hilang selamanya.
Kisah Si Tanggang menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang menjaga hubungan dengan orang-orang yang telah mendukung kita, berpegang pada nilai-nilai kebaikan, dan tidak melupakan asal-usul kita.
No comments:
Post a Comment