Kuda Gorontalo dan Minahasa

Sejarah Minahasa erat kaitannya dengan kuda yang sampai saat ini menjadi cabang olahraga andalan. Sejak zaman dahulu, kehidupan masyarakat Minahasa tidak pernah lepas dari kuda. Sejak dahulu, kuda di Minahasa digunakan untuk membantu masyarakat dalam melakukan kerja seperti menarik gerobak.

Foto: Kuda Minahasa

Seperti halnya Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mempunyai kuda asli lokal yang sering disebut kuda Sumba, Kabupaten Minahasa juga memiliki kuda asli lokal yang disebut kuda poni Minahasa. Jenis kuda tersebut telah ada sejak zaman dahulu, bahkan sebelum kehidupan masyarakat di Minahasa belum dimulai.

Ukuran kuda poni Minahasa tergolong kecil, karena biasanya hanya memiliki tinggi badan maksimal 1,18 meter. Zaman dahulu, kuda poni Minahasa tidak digunakan untuk pacuan, tapi hanya untuk membantu kegiatan masyarakat. Saat ini sudah tidak ada lagi kuda poni Minahasa yang memiliki darah murni, karena semua kuda di Minahasa telah mengalami persilangan dengan kuda jenis lain.

Sekitar tahun 1930-an, pada saat Belanda masih menjajah Indonesia, seorang penguasa Minahasa yang setara bupati saat ini membawa dua ekor kuda pejantan "Belgi" yang adalah kuda asli Belgia. Kedua kuda tersebut memiliki postur tubuh yang lebih besar dibanding kuda poni Minahasa.

Jemmy Mewengkan (54), seorang pelatih kuda pacu di Tompaso mengatakan cikal bakal kuda pacu di Minahasa berasal dari dua ekor kuda Belgi tersebut. Para peternak saat ini melakukan persilangan antara kuda Belgi dengan kuda lokal Minahasa. Persilangan tersebut menghasilkan keturunan yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil dari kuda Belgi, tapi lebih besar dari kuda poni Minahasa. Kedua kuda Belgi milik Belanda saat itu di pelihara pada sebuah kandang di Kecamatan Tompaso. Selanjutnya, sekitar tahun 1947, Bupati Minahasa, Lourens Saerang memasukkan satu ekor kuda pejantan dari jawa bernama Boy Bintang yang adalah keturunan Torobret Australia dengan kuda lokal Jawa.

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia tersebut, kuda-kuda digunakan oleh orang-orang kaya serta memiliki jabatan dalam pemerintahan. Saat itu, kuda hasil persilangan kuda luar dengan kuda lokal Minahasa yang berukuran besar menjadi simbol kekayaan sebagian masyarakat. Sedangkan kuda poni Minahasa tetap melakukan tugasnya menarik gerobak. Memasuki tahun 1950-an, kuda-kuda yang sebelumnya hanya untuk ditunggangi mulai diarahkan untuk dijadikan kuda pacu.

Awalnya lintasan yang digunakan untuk berpacu adalah lintasan lurus berjarak 300 sampai 400 meter. Kuda-kuda yang bersaing dalam perlombaan tersebut adalah kuda hasil persilangan antara kuda Belgi dengan kuda poni Minahasa dan kuda hasil persilangan Torobret Australia dan kuda lokal Jawa. Jemmy menceritakan, sentra peternakan kuda di Minahasa berada di desa Pinabetengan, Talikuran, Liba, Tolok, Sendangan, dan Kamanga, yang semuanya berada di Kecamatan Tompaso.

No comments: