Merak yang Patah Hati





Cerita Rakyat dari Nusa Tenggara Barat

Pada jaman dahulu, semua hewan hidup dengan damai. Mereka berteman satu sama lain. Burung-burung hidup bahagia. Mereka semua suka saling membantu.

Burung yang paling indah adalah merak betina. Dia tinggal di Pulau Jawa. Semua burung kagum dengan kecantikannya.





Merak betina belum memiliki pasangan. Dia sedang menunggu burung tampan untuk menikahinya. Dan suatu hari, seekor elang datang kepadanya.

Elang bercerita tentang seekor burung tampan yang hidup di Pulau Sumbawa. Namanya Santoana. Elang mengatakan bahwa Santoana sempurna untuk menjadi pasangannya. Merak betina mengabaikan berita itu. Dia pikir Sumbawa sangat jauh dari Jawa. Dan sangat sulit baginya untuk bertemu Santoana.

Namun, kemudian dia mendengar berita yang sama dari merpati. Dia mengatakan kepada merak betina tentang Santoana yang sangat tampan. Merpati juga mengatakan bahwa Santoana adalah pasangan yang sempurna untuk merak betina tersebut.

Sekali lagi, merak betina mengabaikan berita itu. Dia masih memikirkan jarak yang harus dia tempuh jika dia ingin bertemu Santoana.

Tapi dia kemudian berubah pikiran ketika mendengar burung beo mengatakan berita yang sama. Semua teman-temannya bercerita tentang burung tampan ini. Dan akhirnya merak betina memutuskan untuk terbang ke Sumbawa untuk bertemu Santoana.

Merak betina terbang dengan gembira. Ketika dia lelah, dia berhenti terbang. Dia bertanya burung lain di mana Pulau Sumbawa itu.

"Pak Kakatua, di mana Pulau Sumbawa?"

"Pergi lurus ke depan. Anda dapat menemukan Pulau Sumbawa," kata kakatua.

Merak betina itu bahagia. Dia terus terbang. Dan ketika dia tidak yakin dengan arah, dia selalu bertanya burung lainnya.

Jawabannya selalu sama. Dia hanya harus terbang lurus ke depan. Dan akhirnya dia tiba di Pulau Sumbawa. Jantungnya berdetak begitu cepat.

Dia mendarat di pantai. Ada burung di sana. Merak betina mendekati burung. Masyarakat dari Sumbawa disebut burung sebagai Bongarasang.

"Permisi, Pak. Apakah Anda tahu di mana saya bisa bertemu Santoana?" tanya merak betina tersebut.

Bongarasang kagum dengan kecantikannya. Dia langsung jatuh cinta padanya. Dia memiliki rencana yang buruk.

"Yah, saya Santoana. Mengapa kamu mencari Aku?" tanya Bongarasang.

Merak betina yang sangat kecewa. Santoana tidak setampan dia bayangkan. Tapi karena dia sudah memutuskan untuk menikah Santoana, dia memutuskan untuk tinggal di Pulau Sumbawa.

Kemudian, merak betina dan Bongarasang menikah. Merak betina tidak tahu bahwa Bongarasang berbohong padanya. Kemudian pasangan ini memiliki anak. Mereka sangat senang. Mereka mengadakan pesta dan mengundang semua burung di pulau ini. Partai itu hampir mulai.

Tiba-tiba burung hantu berkata, "Jangan memulai pesta sekarang sebab Santoana belum datang. Dia akan segera datang."

Kemudian Santoana datang ke pesta. Dia sangat tampan. Bulu itu sangat indah. Dan dia juga memiliki suara yang besar.

Merak betina itu sangat terkejut! Dia bertanya Bongarasang dan akhirnya ia mengatakan yang sebenarnya. Merak betina itu sangat sedih. Dia memutuskan untuk kembali ke Jawa. Anaknya sangat malu. Dia selalu bersembunyi dan menghindari burung lainnya. Orang-orang dari Sumbawa kemudian memberi nama anak merak betina sebagai Bertong.

Sementara itu, Santoana benar-benar menyesal bahwa ia tidak memiliki kesempatan untuk bertemu 
merak betina sebelumnya. Dia sangat sedih dan ia tidak pernah terbang lagi. Sejak itu, ia telah menjadi ayam liar atau ayam hutan.

Dia adalah ayam yang memiliki bulu yang indah dan suara yang besar. Merak betina tidak pernah datang kembali ke Sumbawa, itu sebabnya orang mengatakan bahwa sampai saat ini kita tidak dapat melihat burung merak hidup di Pulau Sumbawa. ***



Pesan Moral:

Berikut adalah pelajaran moral dari cerita rakyat tersebut:

1. Nilai Kejujuran: Bongarasang berbohong kepada merak betina tentang identitasnya, yang menyebabkan serangkaian peristiwa yang tidak menyenangkan. Cerita ini menyoroti pentingnya kejujuran dan konsekuensi dari penipuan.

2. Konsekuensi Keputusan: Merak betina membuat keputusan terburu-buru untuk menikahi Bongarasang tanpa memverifikasi kebenarannya, yang menyebabkan kekecewaan dan kesedihan. Ini mengajarkan pentingnya membuat keputusan yang bijaksana dan tidak terburu-buru berdasarkan kabar burung.

3. Dampak Penipuan: Kebohongan Bongarasang tidak hanya mempengaruhi merak betina tetapi juga anak mereka, yang merasa malu dan bersembunyi dari orang lain. Ini menunjukkan bagaimana kebohongan dapat memiliki dampak yang luas pada orang lain, bukan hanya pada individu yang terlibat langsung.

4. Penyesalan dan Kesempatan yang Hilang: Santoana menyesal tidak bertemu dengan merak betina lebih awal, menunjukkan bagaimana kesempatan yang terlewatkan dapat menyebabkan penyesalan yang abadi. Ini menekankan pentingnya mengambil kesempatan saat itu muncul.

5. Ketahanan dan Melanjutkan Hidup: Meskipun sedih dan merasa dikhianati, merak betina memutuskan untuk kembali ke Jawa, menunjukkan ketahanan dan kemampuan untuk melanjutkan hidup dari situasi sulit.

6. Pentingnya Verifikasi: Ketergantungan merak betina pada kata-kata orang lain tanpa memverifikasi fakta sendiri menyebabkan kesulitannya. Ini menggarisbawahi pentingnya memverifikasi informasi secara mandiri.

Pelajaran-pelajaran ini secara keseluruhan menekankan pentingnya kejujuran, membuat keputusan yang bijaksana, dampak tindakan kita pada orang lain, dan perlunya memverifikasi informasi sebelum membuat keputusan penting.






Ayo Baca Cerita yang lain!

Horse (Equine) Art, Pencil on Paper Collection