Pada zaman dahulu, di tanah Banten, hiduplah seorang saudagar kaya bernama Ki Sarmin. Harta bendanya melimpah, sawah dan ladangnya luas, serta gudang-gudangnya selalu penuh dengan hasil bumi. Namun, kekayaan itu tidak membuatnya sombong.
Ki Sarmin dikenal sebagai orang yang baik hati dan suka menolong. Jika ada tetangga yang kesulitan, ia dengan senang hati membantu. Jika ada musafir yang kelelahan dalam perjalanan, ia mempersilakan mereka beristirahat di rumahnya. Karena kebaikan hatinya, Ki Sarmin sangat dihormati dan dicintai oleh masyarakat.
Suatu hari, musibah datang menghampirinya.
Tanpa sebab yang jelas, kedua kaki Ki Sarmin mengalami kelumpuhan. Ia tidak lagi mampu berjalan seperti biasa. Berbagai tabib dan orang pintar didatangkan untuk mengobatinya. Ramuan tradisional dicoba, doa-doa dipanjatkan, dan berbagai usaha dilakukan, tetapi tidak satu pun yang berhasil menyembuhkan penyakitnya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Meski hatinya sedih, Ki Sarmin tidak pernah kehilangan kesabaran. Ia terus berdoa dan memohon kesembuhan kepada Tuhan.
Pada suatu malam, ketika ia tertidur lelap, Ki Sarmin bermimpi bertemu seorang lelaki tua berjanggut putih. Wajah lelaki itu tampak teduh dan bijaksana.
“Ki Sarmin,” kata lelaki tua itu, “pergilah ke kaki Gunung Karang. Di sana engkau akan menemukan sebuah batu yang cekung. Duduklah dan bertapalah di atas batu itu selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Setelah tapamu selesai, akan keluar mata air panas dari batu tersebut. Mandilah dengan air itu, maka penyakitmu akan sembuh.”
Saat terbangun, Ki Sarmin menganggap mimpi itu hanya bunga tidur.
Namun, pada malam berikutnya, lelaki tua yang sama kembali muncul dan menyampaikan pesan yang sama.
Malam ketiga pun demikian.
Kini Ki Sarmin yakin bahwa mimpi itu bukanlah mimpi biasa.
“Aku harus mengikuti petunjuk ini,” pikirnya.
Keesokan harinya, ia memulai perjalanan menuju kaki Gunung Karang.
Perjalanan itu sangat berat. Dengan kedua kaki yang lumpuh, setiap langkah terasa seperti perjuangan. Terkadang ia harus menyeret tubuhnya. Terkadang ia berpegangan pada tongkat untuk melanjutkan perjalanan. Jalan setapak yang menanjak dan licin membuat usahanya semakin sulit.
Namun, Ki Sarmin tidak menyerah.
Dengan tekad yang kuat, ia terus berjalan hingga akhirnya tiba di kaki Gunung Karang.
Hutan yang lebat membentang di hadapannya. Kabut tipis melayang di antara pepohonan, sementara suara burung dan serangga hutan terdengar dari kejauhan.
Selama beberapa hari, Ki Sarmin mencari batu yang dimaksud dalam mimpinya.
Akhirnya, di sebuah tempat yang sunyi, ia menemukan sebuah batu besar yang cekung di bagian tengahnya.
“Inilah batu yang kucari,” gumamnya.
Ki Sarmin segera memulai tapanya.
Hari demi hari berlalu.
Pada malam-malam pertama, angin dingin berembus kencang menerpa tubuhnya. Pada malam berikutnya, terdengar suara-suara aneh dari dalam hutan. Kadang-kadang ia melihat bayangan gelap bergerak di antara pepohonan. Sesekali terdengar bisikan yang membuat bulu kuduk meremang.
Gangguan-gangguan itu berusaha menggoyahkan tekadnya.
Namun Ki Sarmin tetap teguh.
Ia terus berdoa dan bertahan dengan penuh kesabaran.
Malam demi malam berlalu hingga genap empat puluh hari dan empat puluh malam.
Saat fajar menyingsing pada hari keempat puluh satu, Ki Sarmin membuka matanya. Tapanya telah selesai.
Perlahan-lahan ia turun dari batu cekung itu.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari dalam tanah.
Bumi bergetar pelan.
Tak lama kemudian, dari cekungan batu itu memancar air panas yang jernih. Uap hangat mengepul ke udara, menyelimuti batu dan pepohonan di sekitarnya.
![]() |
| Ketika tapa Ki Sarmin berakhir, mata air panas ajaib memancar dari Batu Kuwung, membawa harapan dan kesembuhan. |
Ki Sarmin teringat pesan dalam mimpinya.
Dengan penuh harapan, ia masuk ke dalam air panas tersebut dan mandi di sana.
Keajaiban pun terjadi.
Tubuhnya terasa segar dan ringan. Kehangatan air seolah mengalir ke seluruh sendi dan ototnya.
Perlahan, ia menggerakkan kakinya.
Kaki itu bergerak.
Dengan tidak percaya, ia mencoba berdiri.
Ia berhasil.
Kemudian ia melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu berjalan seperti sediakala.
"Puji syukur, aku telah sembuh!" serunya dengan penuh rasa syukur.
Ki Sarmin sujud dan memanjatkan doa sebagai ungkapan terima kasih atas kesembuhan yang telah diterimanya.
Setelah itu, ia kembali ke kampung halamannya dan menceritakan peristiwa luar biasa tersebut kepada penduduk.
Kabar mengenai batu ajaib dan mata air panas itu segera menyebar ke berbagai daerah. Banyak orang datang untuk melihatnya dan merasakan sendiri kehangatan air yang dipercaya membawa manfaat.
Sejak saat itu, batu tersebut dikenal dengan nama Batu Kuwung, yang berarti Batu Pelangi. Hingga kini, kisah tentang Batu Kuwung tetap hidup sebagai salah satu legenda yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Banten.


















No comments:
Post a Comment