Putri Ular

The Princess of Snake | English Edition

Folklor dari Sumatera Utara

SEKALI kala di Simalungun, Sumatera Utara, ada seorang raja dengan putrinya yang cantik.
Sang putri sangat  terkenal. Banyak pemuda yang mengagumi kecantikannya.

Salah satu pria muda yang jatuh cinta dengannya adalah seorang pangeran dari kerajaan tetangga. Ppangeran datang ke Simalungun dan berbicara dengan raja. Dia ingin melamar sang putri.

Kemudian raja berbicara dengan putrinya tentang lamaran  pernikahan. Sang putri adalah seorang putri yang sangat baik. Dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya.

Dia tahu orang tuanya ingin dia menerima lamaran  pernikahan pangeran. Raja dan ratu merasa senang bahwa akhirnya putri mereka berencana untuk menikah.

Kemudian, upacara pernikahan disiapkan. Semua orang di kerajaan itu sibuk. Mereka semua ingin menghadirinya.

Sang putri juga sibuk mempersiapkan diri. Satu hal yang harus dia lakukan adalah dia harus merawat tubuhnya dengan hati-hati. Dia ingin terlihat sangat cantik saat upacara pernikahan.

Seperti biasa, sang putri dan asistennya sedang mandi di kolam dalam istana taman. Sang putri sangat senang dan dia sedang bermain-main di dalam kolam. Dia tidak hati-hati akibatnya ia terpeleset sehingga hidungnya membentur batu besar dan berdarah. Para asistennya segera membantunya.

Ketika mereka menghentikan pendarahan, mereka terkejut. Hidung putri tidak lagi cantik. Ketika sang putri tahu apa yang terjadi, dia sangat sedih. Dia takut bahwa pangeran akan membatalkan pernikahan .Dan jika itu benar-benar terjadi, raja akan sangat marah. Sang putri sangat menyesal, dia tidak hati-hati di kolam.

Namun, sudah terlambat. Tidak ada gunanya baginya untuk menyesali apa yang telah terjadi.
Sang putri kemudian berdoa kepada Tuhan.

"Saya bukan anak yang baik, Tuhan. Aku tidak bisa membuat orang tua saya bangga padaku. Silakan menghukum saya. Saya tidak bisa hidup lagi. Saya tidak ingin melihat orang tua saya menjadi sedih hanya karena aku, berdoa sang putri. Hebatnya, tepat setelah sang putri selesai berdoa, sang putri perlahan berubah menjadi ular. ini dimulai dari kakinya dan perlahan-lahan ke tubuh bagian atas juga berubah. Para asisten terkejut.

Mereka pergi ke istana dan melaporkan kepada raja. Ketika raja dan ratu tiba di kolam, sang putri telah benar-benar berubah menjadi ular. Raja dan ratu sedih. Mereka melihat putri mereka semata wayang telah berubah menjadi ular yang juga tampak sangat sedih tapi ia tidak bisa berbicara lagi.

Perlahan-lahan, ular pergi ke semak-semak dan menghilang. Ia tidak bisa hidup di istana lagi dan tidak bisa berubah kembali sebagai manusia. ***

Wanita mengenakan Ulos

Simalungun, Sumatra Utara

No comments: