Dahulu kala, di kerajaan Sumatra Selatan yang makmur, hiduplah seorang raja yang bijaksana dan berkuasa. Ia memiliki seorang putri bernama Siti Fatimah, yang cantik dan berhati lembut. Keanggunan dan pesonanya dikagumi oleh banyak orang, namun tidak ada pemuda di kerajaan yang berani melamar dirinya. Mereka tahu bahwa sang raja memiliki harapan yang tinggi—hanya pria kaya dan terhormat yang bisa menikahi putri tercintanya.
Suatu hari, sebuah kapal megah dari Tiongkok berlabuh di sepanjang Sungai Musi. Di atas kapal itu terdapat Tan Bun Ann, seorang pangeran sekaligus saudagar yang mencari peruntungan di negeri baru. Reputasinya sebagai pedagang ulung telah tersebar luas. Sesampainya di istana, ia dengan hormat mendekati sang raja.
"Baginda, hamba datang untuk berdagang di tanah yang makmur ini. Dengan restu Baginda, hamba ingin tinggal sementara dan menjalankan usaha hamba," ujar Tan Bun Ann sambil membungkuk dengan hormat di hadapan sang raja.
Sang raja, yang selalu mencari peluang untuk memperkaya kerajaannya, mempertimbangkan usulan itu. "Baiklah," katanya. "Kau boleh tinggal, tetapi setengah dari keuntunganmu harus diberikan kepada kerajaan."
Tan Bun Ann dengan rendah hati menerima syarat tersebut, dan demikianlah ia mulai berdagang di Sumatra Selatan. Bisnisnya berkembang pesat, dan ia menjadi tamu yang sering datang ke istana. Di sanalah ia bertemu dengan Putri Siti Fatimah. Sejak pertama kali melihatnya, Tan Bun Ann begitu terpesona. Kecantikannya hanya tertandingi oleh kelembutannya, dan ia ingin mengenalnya lebih dalam.
Dengan tekad yang kuat, Tan Bun Ann diam-diam mencari tahu tentang sang putri. Ia mengetahui bahwa Siti Fatimah masih belum menikah karena ayahnya menginginkan menantu yang kaya raya. Pengetahuan itu semakin membangkitkan semangatnya. Ia bekerja lebih keras lagi, berusaha membuktikan dirinya layak menjadi pendamping sang putri.
Seiring waktu, Siti Fatimah mulai memperhatikan kegigihan dan ketulusan hati Tan Bun Ann. Mereka mulai bertemu secara diam-diam, berbagi cerita tentang budaya mereka dan impian mereka di masa depan. Hari demi hari, cinta di antara mereka semakin tumbuh, menguat di setiap pertemuan rahasia yang mereka jalani.
Ketika Tan Bun Ann merasa siap, ia mendatangi sang raja untuk secara resmi melamar Putri Siti Fatimah. Namun, sang raja tidak mudah diyakinkan.
"Jika kau ingin menikahi putriku, kau harus membuktikan kekayaan dan kesetiaanmu. Bawakan aku sembilan guci besar yang dipenuhi emas," titah sang raja.
Tan Bun Ann, yang bertekad memenuhi permintaan itu, segera menulis surat kepada orang tuanya di Tiongkok. Ia menjelaskan cintanya pada sang putri dan keinginannya untuk menikahinya. Orang tuanya menyambut kabar itu dengan sukacita dan mengirimkan sembilan guci besar berisi emas. Demi keamanan, emas itu disembunyikan di bawah tumpukan sayuran agar tidak menarik perhatian para pencuri.
Ketika kiriman itu tiba di tepi Sungai Musi, Tan Bun Ann bergegas memeriksa guci-guci tersebut. Namun, saat membuka guci pertama, ia hanya menemukan sayuran busuk. Hatinya dipenuhi rasa cemas. Apakah terjadi kesalahan? Ia membuka guci kedua, lalu guci ketiga, dan menemukan hal yang sama.
Amarah mulai menguasai dirinya. Ia yakin telah dikhianati oleh orang tuanya.
"Mereka menjanjikan emas kepadaku, tapi malah mengirimkan sampah?!" teriaknya marah.
Diliputi kekecewaan dan kemarahan, ia melemparkan guci-guci itu ke sungai satu per satu.
Ketika ia mengangkat guci terakhir, tubuhnya sudah lelah dan hatinya penuh kepedihan. Dengan tenaga terakhirnya, ia membanting guci itu ke tanah. Guci itu pecah berkeping-keping, dan dari dalamnya, koin-koin emas berkilauan menghambur ke tanah.
Ketakutan menyelimuti dirinya saat ia menyadari kesalahan fatal yang telah ia buat. Tanpa berpikir panjang, Tan Bun Ann melompat ke sungai, berusaha mati-matian menyelamatkan emas yang telah ia buang dengan sia-sia.
Siti Fatimah, yang menyaksikan dari tepi sungai, memanggil Tan Bun Ann dengan cemas, tetapi ia tidak pernah kembali ke permukaan. Ketakutan mulai menyelimuti hatinya saat ia menunggu. Menit demi menit berlalu, berubah menjadi jam, namun Tan Bun Ann tak juga muncul.
Dengan tekad untuk tetap bersamanya, ia menoleh kepada para pengawalnya dan berbisik kata-kata terakhirnya:
"Jika suatu hari kalian melihat sebuah gundukan tanah muncul dari sungai ini, ketahuilah bahwa itulah makamku."
Setelah berkata demikian, ia pun melompat ke dalam sungai, menghilang di bawah permukaan air.
Hari-hari berlalu, dan seperti yang telah ia ramalkan, sebuah gundukan tanah mulai muncul dari Sungai Musi. Gundukan itu semakin lama semakin besar, hingga akhirnya membentuk sebuah pulau. Sebagai penghormatan atas kisah cinta tragis mereka, penduduk setempat menamai tempat itu Pulau Kemaro—berasal dari kata kemarau, yang berarti musim kering, karena pulau ini tidak pernah tenggelam meskipun air sungai sedang naik.
Hingga hari ini, Pulau Kemaro tetap menjadi simbol cinta sejati dan takdir yang tidak terelakkan. Wisatawan dari berbagai penjuru datang untuk menyaksikan tanah tempat seorang pangeran dan seorang putri mengorbankan segalanya demi cinta.
Pesan Moral: Ketekunan dan Akibat dari Kesalahpahaman
Kisah ini menekankan pentingnya kesabaran, ketekunan, dan bahaya dari kesalahpahaman. Ketidaksabaran dan penilaian tergesa-gesa Tan Bun Ann berujung pada tragedi yang memilukan. Kegagalannya dalam memeriksa kebenaran dengan saksama menyebabkan konsekuensi yang tak terpulihkan, mengingatkan kita bahwa tindakan impulsif dapat berujung pada penyesalan. Kisah ini mengajarkan nilai kesabaran, ketelitian, dan pemahaman dalam setiap keputusan yang kita ambil.
Lebih dari itu, kisah ini mengajarkan bahwa kekayaan sejati tidak diukur dari harta benda semata. Kebaikan hati, cinta, dan kebajikan adalah harta yang paling berharga. Semoga kisah ini menjadi pengingat abadi akan makna mendalam dari kekayaan sejati.