Legenda Komodo (Ora dan Gerong)


The Legend of Komodo Dragon >> English version

Cerita Rakyat dari dari Nusa Tenggara Timur

Nama besar Taman Nasional Komodo (TNK) khususnya Pulau Komodo tak bisa lepas dari keberadaan Kampung Komodo. Kampung tua nan bersejarah inilah habitat asli hewan purba Komodo atau Varanus Komodoensis berada.

Penduduk setempat meyakini Kampung Komodo merupakan cikal bakal atau asal muasal buaya darat yang namanya kesohor ke seantero jagat raya. Dibalik keyakinan itu, ada kisah legenda yang belum diketahui oleh sebagian besar orang.

Haji Amir, sesepuh pulau Komodo menceritakan, konon dahulu kala, Kampung Komodo bernama Kampung Najo. Nama Kampung Najo diambil dari nama seorang saudagar yang bernama Najo.

Dikisahkan, Najo memiliki salah satu anak perempuan bernama Epa yang kala itu sedang menanti kelahiran anak perdananya. Sesuai tradisi Kampung Najo, persalinan seorang anak tidak boleh melalui proses persalinan yang normal melainkan harus melalui proses ‘operasi bedah’ yakni dengan menggunakan pisau dari kulit bambu. Tradisi itu dilakukan oleh masyarakat setempat untuk menghindari resiko kematian bersalin.

Saat persalinan pun tiba. Perut Epa dibelah oleh seorang dukun beranak. Dari dalam rahim keluar dua sosok bayi. Bayi yang satu berjenis kelamin laki-laki sedangkan yang satu lagi bayi kadal.

Epa dan suaminya bernama Wake selanjutnya memberi nama bayi laki-laki mereka itu dengan nama Gerong sedangkan si  bayi yang menyerupai kadal itu diberi nama Ora. Ora dalam bahasa setempat berarti biawak atau kadal.

Pasangan bersaudara kembar berbeda wujud itu pun bertumbuh dan hidup penuh kasih sayang dalam asuhan kedua orang tua mereka.  Namun, seiring dengan proses pertumbuhan, Ora perlahan-lahan menunjukan sifat yang agresif dan ganas.

Dari kebiasaan makan nasi ‘rampi’ yakni nasi yang terbuat dari buah pohon Gebang, Ora perlahan-lahan berubah tabiat dan selera makannya. Ia semakin bersikap ganas dan sering memangsa hewan peliharaan warga untuk dimakan.

Karena sikap Ora yang semakin berbahaya, semua warga kampung mengusir Ora dari kampung halaman mereka. Ora yang beranjak dewasa dan pertumbuhan fisiknya yang semakin panjang  ukurannya, ia pun pergi dan menetap di dalam hutan.

Meski terusir dari kampung halaman, namun Ora masih tetap datang ke kampung itu untuk melepas ‘kangen’ dengan saudara kembaran, Gerong. Hingga kini hubungan antara buaya darat Komodo dengan penduduk setempat terasa tetap akrab dan secara emosional terasa sangat dekat dengan penduduk setempat.

Perasaan yang demikian akrab seperti ini hampir tidak mungkin dirasakan oleh orang luar atau orang yang berkunjung ke kampung Komodo. Namun, bagi penduduk Komodo, binatang purba itu diperlakukan seperti saudara kandung. Mereka tidak saling bermusuhan tetapi sebaliknya mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Komodo boleh datang dan berkeliaran secara bebas di dalam kampung, boleh tinggal di bawah kolong-kolong rumah panggung tanpa merasa terusik oleh hiruk pikuk warga setempat. Warga setempat juga tak pernah merasa terusik atau khwatir akan keberadaan binatang purba itu di tengah-tengah mereka.

Penduduk suku asli Komodo menganggap komodo sebagai leluhur atau nenek moyang mereka. Untuk menghormati nenek moyang mereka itu, maka setiap tahun mereka mengadakan ritual khusus yang disebut ‘aru gele’ yakni  sebuah ritus adat menumbuk buah pohon gebang.

Upacara adat ‘aru gele’ sekaligus sebagai simbol untuk mengenang kembali orang tua Ora dan Gerong yang dulu telah memberi makan anak-anak mereka  dengan buah gebang. (Kornelius Rahalaka)